Minggu, 13 Maret 2016

10 MENIT YANG SERING



Khusus untuk anak kita sejak usia pra sekolah (kira-kira 3 atau 4 tahun) hingga duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar (sekitar usia 9 atau 10 tahun), 10 Menit merupakan waktu yang sangat berharga untuk mempelajari tiga hal ini:
1    Matematika
2    Bahasa
3    Musik 

Anak-anak sebelum usia 10 tahun, cenderung aktif, cepat lelah dan cepat bosan…. Sehingga sangat penting memanfaatkan 10 menit pertama waktu mereka, untuk mempelajari matematika, bahasa dan musik.  
Tentu saja 10 menit tidak hanya untuk satu hari, melainkan 10 menit setiap hari, kecuali pada hari-hari libur.

Mengapa 10 menit?
Ini nasehat efektif yang diberikan oleh guru musik anak saya di sekolah musik (terimakasih, Miss), dan sudah saya praktekkan bertahun-tahun.
Konsentrasi  anak dalam 10 menit pertama adalah konsentrasinya yang terbaik, orang tua dapat menggunakan waktu itu dengan efektif, sehingga materi yang dipelajari akan mereka serap dengan mudah.  

Mengapa matematika, bahasa dan musik?
Karena ketiga bidang studi ini merupakan dasar pelajaran-pelajaran lainnya di sekolah.
Caranya, anda dapat membantu anak mengatur waktu belajarnya, sesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan masing-masing anak. 

Contoh yang saya terapkan misalnya :
Pukul 18.00 adalah 10 menit pertama anak saya belajar matematika. Bisa dilakukan sambil bermain… seperti main jual-jualan untuk menghitung tambah kurang atau memotong kue menjadi beberapa bagian dan diberikan ke papa, mama, si mbak, untuk mengajarkan konsep pembagian.
Setelah itu anak dapat beristirahat atau melakukan kegiatan lain, kemudian jadwal selanjutnya 10 menit kedua pukul 19.00 saya mengajari anak belajar bahasa inggris. Misalnya dengan bernyanyi, membaca cerita, main tebak kata atau bermain peran dalam bahasa Inggris.
Dan 10 menit terakhir, berlangsung satu jam kemudian, dimana saya jadwalkan anak untuk belajar musik, sesuai materi yang diajarkan di sekolah musik atau menyanyi bersama lagu anak-anak. Kadang-kadang kami pura-pura membuat lomba menyanyi atau membuat lagu sendiri… hehehe… 

Saya sudah terapkan ini sejak anak saya usia 4 tahun, dan hasilnya sangat baik, anak dapat menyerap pelajaran dengan mudah, dan belajar menjadi sangat menyenangkan. 


Kamis, 03 Maret 2016

MENGHAPAL PANCASILA

Si kecil yang baru duduk di kelas satu SD mendapat tugas menghapal Pancasila?

Ternyata tidak mudah bagi seorang anak kecil menghapal bunyi Pancasila apalagi lengkap dengan lambang-lambangnya.....

Tapi ada cara jitu yang boleh dicoba supaya si kecil mudah menghapal dan tidak cepat lupa.

Begini, caranya:

1. Bunyikan kata Pancasila seperti orang berdeklamasi atau membaca puisi. Demikian pula ketika menyebut bunyi silanya satu persatu, usahakan seperti sedang membaca puisi atau berdeklamasi, jangan datar atau monoton. Bunyi nada yang berirama akan membuat anak lebih mudah mengingat dan menghapalkannya.

2. Ketika menyebut "Satu,  Sila Pertama," buat bentuk bintang di udara... sehingga anak akan hapal bahwa sila pertama lambangnya bintang. Lalu, sebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

3. Untuk sila kedua biarkan kedua tangan digandengkan sehingga membentuk seperti jalinan rantai.... sesuai lambang sila kedua yaitu rantai, sambil menyebutan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dengan nada seperti orang berdeklamasi. 

4. Sila ketiga Persatuan Indonesia, biarkan anak mengangkat kedua tangannya ke atas membentuk batang pohon. Sambil orang tua atau guru menjelaskan, lambang sila ketiga adalah pohon beringin.

5. Pada saat menyebut sila keempat, taruh kedua tangan disamping telinga dan goyang-goyangkan, seperti membentuk tanduk banteng. Kemudian deklamasikan: Kerakyatan...... yang dipimpin.....oleh hikmat kebijaksanaan....... dalam permusyawaratan.......perwakilan.
Mengingat bunyi sila keempat agak panjang, maka perlu dilakukan pemenggalan kalimat. Ajari anak, memenggal kalimat dengan benar, sehingga selain memudahkan mengingat, juga memudahkan memahami maknanya.

6. Sila kelima
angkat tangan satu persatu secara bergantian, seperti orang menari balet, sambil dijelaskan tangan yang satu  melambangkan padi dan yang satu lagi melambangkan kapas
Lalu bentangkan kedua tangan di depan sambil menyebutkan bunyi sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selamat Mencoba....

Rabu, 02 Maret 2016

BELAJAR SESUAI KARAKTER

Sudah lama kita ketahui bahwa setiap orang mempunyai karakter yang berbeda-beda.

Karakter akan mempengaruhi cara kita belajar.

Oleh sebab itu, seorang guru atau orang tua yang akan mengajar anaknya atau mendampingi anaknya belajar, sebaiknya terlebih dahulu memahami karakter anaknya, dan menggunakan pendekatan yang paling pas dalam proses belajar mengajar sesuai karakter anaknya.

Bagaimana mengenali karakter anak? perlu dibawa tes psikologi dulu? ow ow ow.... boleh saja, jika orang tua ingin lebih yakin dalam mengetahui karakter sang anak.

Tapi secara mudah, karakter belajar anak dapat dibedakan menjadi beberapa type, misalnya:

Anak Tipe Auditori

Kekuatannya ada di pendengaran.
perhatikan kesehariannya, anak auditori umumnya lebih suka mendengar  musik atau pembicaraan lisan, daripada membaca. Kalaupun membaca, dia lebih suka dibacakan, daripada membaca buku sendiri.

Biarkan anak auditori belajar sambil membaca dengan bersuara, kalau yang lain terganggu biarkan dia mencari tempat sendiri sehingga bisa membaca keras-keras. Umumnya, anak auditori akan lebih mudah menyerap suatu pesan atau makna melalui suara. Anak auditori mampu mencerna  keras lembut, tinggi rendah, tone, maupun pitch suara dengan baik.

Untuk mengefektifkan belajarnya, ingatkan dia supaya memperhatikan penjelasan guru ketika di kelas, karena dengan mendengarkan gurunya, sudah membantu menyerap sebagian pelajaran dengan  baik.  Jika memungkinkan, biarkan ia memilih tempat duduk yang memungkinkan ia dapat berkonsentrasi dengan kata-kata yang dijelaskan oleh gurunya, dan biarkan dia aktif dalam diskusi, karena ia juga mudah  belajar melalui cara mendengarkan teman diskusinya berbicara.
Bisa juga apa yang dipelajarinya direkam dalam kaset atau cd, kemudian diperdengarkan kembali kepadanya.


Anak Tipe Visual 

Kekuatannya ada di penglihatan.
perhatikan kesehariannya, anak tipe visual umumnya lebih suka melihat, mengamati daripada mendengarkan pembicaraan. Jenis bacaan yang dipilihnya adalah bacaan dengan banyak gambar, seperti komik.

Biarkan anak tipe visual belajar sambil mengingat apa yang dilihatnya, bukan yang didengarnya. Umumnya, anak visual akan lebih mudah menyerap suatu pesan atau makna melalui gambar-gambar . Anak visual  mampu mencerna  gradasi warna, bentuk, peta, skema, diagram dengan baik.

Untuk mengefektifkan belajarnya, ajari dia membuat skema yang menggambarkan materi ajar maupun jalan pikiran dari sesuatu hal yang dipelajari. Gunakan macam-macam warna untuk menandai materi pelajaran yang dipelajarinya, beri garis bawah, beri gambar, beri ilustrasi-ilustrasi yang memudahkan dia untuk mengingat kembali apa yang dipelajarinya. Bisa juga  belajar dengan menggunakan tampilan-tampilan visual seperti video, televisi, atau buku pelajaran dengan banyak gambar.  Jika memungkinkan, biarkan ia memilih tempat duduk yang memungkinkan ia dapat melihat dengan detail gambar-gambar yang ada, misalnya jika ada penjelasan mengenai peta, berikan ia kesempatan dan posisi yang tepat untuk mengamati setiap detail gambar yang ada di peta. Namun, jika guru di kelas lebih banyak menjelaskan dengan tulisan, maka ajarkan ia untuk mengulang kembali apa yang dijelaskan gurunya, namun dalam bentuk gambar. Dalam hal ini, gambar yang dimaksud, bukan gambar yang bagus yang dibuat oleh seseorang dengan bakat menggambar, namun lebih kepada gambar yang memudahkan si anak untuk menyerap materi yang dipelajarinya.Belajar akan lebih efektif jika ia membuat sendiri illustrasi atau ide-ide dari apa yang dipelajarinya, dan dituangkan dalam gambar.

Anak Tipe Kinestetik

Kekuatannya ada di gerakan, sentuhan, dan melakukan sesuatu.

Anak tipe kinestetik seringkali disebut hiperaktif, padahal mereka tidak bisa diam karena karakter mereka memang selalu bersemangat untuk beraktifitas dan mengeksplorasi sekeliling mereka. Mereka belajar dengan bergerak, berjalan, akting atau pura-pura meniru, mengalami langsung. Bergerak merupakan ciri mereka yang paling tampak, sehingga kesannya tidak bisa diam. Sebagai contoh, jika diminta membaca, mereka cendurung membaca sambil menggerakkan jari untuk menunjuk satu persatu kata dalam tulisan yang dibacanya, atau membaca sambil berjalan-jalan atau mengerakkan tubuh yang mencerminkan suatu aksi.

Untuk mengefektifkan belajarnya, biarlah dia belajar sambil mendengarkan musik atau sambil mengunyah/ makan sesuatu, misalnya permen karet. Belajar tidak usah terlalu lama, tapi sering. dan rutin. Anak kinestetik juga dapat menandai hal-hal penting yang dipelajarinya sama seperti anak visual, tetapi kalau anak visual penekanan cara belajarnya terletak pada penglihatan dari hasil goresannya, sedangkan anak kinestetik penekanan cara belajarnya adalah tubuhnya yang bergerak, misalnya ketika ia menggerakkan tangannya membuat goresan, itulah saat ia menyerap materi yang ia pelajari. Biarkan anak kinestetik mengeksplorasi langsung apa yang dipelajarinya, misalnya ketika anak belajar tentang binatang, ajak dia ke kebun binatang untuk mengalami langsung obyek yang ia pelajari atau misalnya ketika ia belajar tentang tumbuh-tumbuhan, ajarkan ia menanam tumbuh-tumbuhan seperti yang dipelajarinya.

Demikian berbagai tipe  anak dan cara belajarnya. Kenali terlebih dahulu seperti apa tipe anak anda atau siapapun yang anda ajar, untuk membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.

PELAJARI CARA BELAJAR

Tulisan-tulisan pada blog ini dimulai dari keinginan saya untuk berbagi cara belajar ke sebanyak mungkin orang.....

Mengapa?

Karena, menurut saya setiap orang perlu mengenal dirinya dan cara belajar yang paling tepat untuknya, supaya belajar terasa menjadi mudah, efektif dan efisien......  dengan demikian BELAJAR JADI ASSSYIIIIKKKK....


Saya melihat dan mengamati... macam-macam orang dengan gayanya yang berbeda-beda ketika belajar.... ada yang cukup lihat sebentar, langsung bisa... ada yang menulis berlembat-lembar baru bisa... ada yang bergerak kesana kemari.. jungkir balik, kesannya seperti tidak serius... tapi cepat menguasai materi.

Selain itu, ada yang pakai dibentak, dipukul, dicubit, bahkan diancam.. wuiiiii.... tetep aja tidak masuk di otak....kasihan benerr....

Satu hal yang saya ketahui, ternyata yang butuh belajar tidak hanya murid atau orang yang diajar. Tetapi juga yang mengajar. Loh kok gitu?

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan kecil-kecilan saya, banyak orang yang mengajar orang lain entah guru atau ortu, kesulitan mengajar anaknya karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara belajar.
Lah, bagaimana mereka mau mengajar, wong mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara belajar? akibatnya mereka merasa marah, jengkel, frustrasi... kalau yang diajar gak bisa-bisa. Waduh,.....

Mudah-mudahan sharing pengalaman saya dalam belajar maupun mengajar, yang saya tulis dalam blog ini bermanfaat untuk menciptakan suasana belajar yang assssyiiiikkkk...



SALAM SEMANGAT BELAJAR,

= 3 Maret 2016=